"Menuju Ekonomi Robbani" Merupakan Slogan Salah Satu KSEI yang Berasal Dari Universitas Umum di FoSSEI Regional Sumatera Bagian Selatan

KSEI yang memakai slogan ini adalah KSEI Ukhuwah FE Unsri, KSEI ini berhasil mendapatkan penghargaan KSEI Robbani pada Musyawarah Regional FoSSEI Sumbagsel IV yang diadakan di Universitas Lampung

Ikhwan KSEI Risef di Field Trip Temilreg Curup

Temilreg yang diadakan KSEI FoKES STAIN Curup Bengkulu berhasil dijuarai oleh KSEI Pakies IAIN Raden Fatah Palembang, di akhir kompetisi panitia menyediakan agenda Field Trip ke Suban Air Panas Curup, Bengkulu Utara

Field Trip Rakereg FoSSEI Sumbagsel 2011

Rakereg FoSSEI Sumbagsel yang diadakan di IAIN Raden Fatah Palembang dengan tuan rumah KSEI Pakies menjadi salah satu pengalaman tak terlupakan bagi peserta Rakereg yang menyempatkan diri berwisata ke Pulau Kemaro, sebuah Pulau Legendaris yang membelah Sungai Musi

Delegasi KSEI Ukhuwah FE Unsri Pada Temilnas X UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Meskipun tidak berhasil menang dan mencapai target, para delegasi dari KSEI Ukhuwah tetap bersemangat mengikuti agenda yang telah susah payah dipersiapkan oleh Panitia, kala itu KSEI Ukhuwah FE Unsri berdampingan dengan saudara seperguruannya, KSEI Pakies IAIN ReFah Palembang serta ditambah salah satu delegasi dari Komsat Bengkulu, KSEI FKSI KEI KBM Unib

Foto Bersama, Ketua Komsat FoSSEI Sumsel, Presnas II FoSSEI dan Koreg FoSSEI Sumbagsel

Tidak ada yang istimewa dari foto ini, selain mereka sebenarnya adalah satu KSEI, dari kiri ke kanan : akh Firmansyariandi, akh Febri Fransiska, akh Rizarullah Santoso

Sabtu, 05 Januari 2013

Garis Para Pemimpin




dakwatuna.com – Tidak seperti petarung, yang skillnya bisa dilatih sepuluh tahun. Tidak juga penulis dan pelukis, atau dokter dan desainer. Kepemimpinan dibangun atas formula yang rumit. Karena ia berarti mengelola manusia yang berkeinginan, manusia yang berobsesi luhur, atau manusia yang tidak sudi diatur. Kepemimpinan menyalurkan potensi dan mengarahkannya ke tujuan. Terlebih kepemimpinan yang ini, bukanlah pemimpin se-kampung dan se-kota, atau se-jazirah Arab, tapi pemimpin umat manusia di zamannya, hingga akhir dunia. Mengantar manusia dari pekatnya malam ke gerbang pagi menuju benderang siang. Dan itu butuh persiapan mental, pikiran dan fisik yang sempurna.

Persiapan itu bukan dimulai di usia dewasa atau remaja, tapi sejak lahir, bahkan sebelum lahirnya. Tahun kelahiran Muhammad adalah ‘âmul fîl, tahun kesyukuran Arab Mekah yang selamat dari ancaman invasi pasukan Gajah. Ia lahir senin, 12 rabîul awwal.

Saat Abrahah menyerbu Mekah dengan enam puluh ribu pasukannya, ia meminta tim intelijennya untuk meneliti tokoh yang paling berpengaruh di Mekah. Dan ia adalah Abdul Muthallib, kakek Muhammad. Saat Abdul Muthallib menghadapi Abrahah yang agung di atas gajah terbesarnya, Abrahah gamang. Yang dihadapinya ternyata tidak hanya disegani Quraisy, tapi diseganinya juga. Ia yang biasanya percaya diri sekarang bingung, ia yang biasanya sombong sekarang tidak bisa tidak untuk menghormatinya. Tapi tidak mungkin mendudukkannya di atas gajah juga. Akhirnya ia sendiri yang turun dari gajahnya, wibawa raja luntur, ditelan kharisma lelaki di depannya.

Abdullah anak lelakinya pun paling terhormat di sana yang kemudian menikah dengan wanita paling terjaga kesuciannya, Aminah. Setiap detik kehidupan Muhammad Sang Da’i penuh perencanaan Allah. Sempurna, agar umat setelahnya bisa mengkaji kesempurnaan alur pertumbuhan Muhammad bayi menuju dewasanya. ‘‘Allah memilih Kinânah di antara keturunan Ismâ’îl, dan memilih Quraisy dari Kinânah, dan memilih dari Quraisy itu bani Hâsyim, dan memilihku dari banî Hâsyim’’ kata Rasulullah suatu hari.

Garis keturunan ini penting, karena manusia pada fitrahnya menghormati silsilah yang terhormat. Di manapun itu, terlebih di Amerika Serikat saat ini. Mereka mencengkeram keyakinan blue blood atau darah biru. Merekalah yang dianggap lapisan paling luhur dari masyarakat, yaitu WASP [White, Anglo, Saxon, Protestant]. Mereka haruslah berkulit putih, berasal dari Inggris golongan Saxon, dan bermazhab Kristen Protestan.

Garis keluhuran nasab pada dasarnya tidak menjadi ruang pertanggungjawaban muslim dalam Islam, karena ia bukan usaha manusia, tapi pilihan Allah. Namun manusia memang lebih menghormati jika seorang pemimpin mempunyai keluhuran nasab. Dan Muhammad, disiapkan untuk menjadi pemimpin para pemimpin, sehingga nasabnya bukan sekadar bersih, tapi garis luhur para pemimpin di kaumnya.

Poin yang menjadi kaidah dakwah bahwa pencetakan generasi masa depan, generasi pemimpin bukanlah dimulai dari pendidikan anak, tapi dari keagungan orang tua, bahkan dari kesucian masa muda mereka. Mungkin generasi baru itu tumbuh dan memukau tetapi dalam beberapa kondisi rusaknya reputasi keluarga bisa menjadi fitnah besar dalam kehidupan dakwah seorang dai kecuali jika ia sudah maksimal dalam usaha perbaikan itu.

Mental kepemimpinan Muhammad bahkan dibangun saat ia dalam gendongan kakeknya. Dalam rapat-rapat resmi tetua kaum, dalam momen-momen diplomasi politik. Saat beberapa pembesar Quraisy memprotes kebiasaan Abdul Muthallib membaca Muhammad kecil ke forum-forum resmi, dengan ringan ia beralasan “biarkan anakku ini, karena demi Allah, ia akan memikul urusan besar’’.

Pengalaman-pengalaman rutin ini membangun mental kepemimpinan seorang da’i. Ia melihat momen-momen para pembesar kaum itu berbicara dan berdebat, berdiplomasi dan bersiasat, menerima tamu dan merencanakan perang, berbisnis bahkan bertarung. Pengalaman-pengalaman itu hidup dalam darah dan daging, bukan sekadar visual seperti membaca, atau auditorial dalam mendengar cerita. Muhammad muda memahami sejak kecil bahwa ada urusan besar dalam hidup manusia, sehingga otaknya tidak disibukkan dengan bermain.

Akumulasi ini yang membangun mental kepemimpinan. Ia bukan pelajaran yang dihafal tapi motivasi yang terus ditiupkan dan disimulasikan dalam pengalaman harian. Seperti saat Mu’awiyyah kecil didoakan seseorang untuk menjadi pemimpin Quraisy, ibunya marah membentak ‘‘celakalah kamu, dia tidak dilahirkan untuk memimpin Arab, tapi dunia’’. Atau seperti Muhammad al-Fâtih kecil yang selalu dibacakan hadits Rasulullah ‘‘Kota Konstantinopel akan dibebaskan, pemimpin terbaik adalah pemimpin yang membebaskannya…’’. Dan tiba-tiba saja ide-ide di ruang pikiran itu mengejawantah di medan kenyataan di masa dewasa mereka. Daulah Umawiyyah yang didirikan Mu’awiyyah dan Daulah Ustmâniyyah yang akhirnya beribu kota Konstantinopel di zaman Muhammad al-Fâtih wilayahnya mencakup tiga benua dan menjadi imperium terkuat di zaman mereka.

Hal ini mengajari kita bahwa di balik para pemimpin besar, ada obsesi luhur yang membara sejak mereka kecil. Obsesi yang tidak rela dengan kondisi zamannya yang hina, obsesi yang ingin mengembalikan kemanusiaan manusia. Dan sejak kecil hingga remaja Muhammad merasakannya. Hanya saat itu ia belum tahu harus memulai dari mana. Dan terlebih ia tidak tahu, bahwa ada rencana Allah yang menanti untuk mendidiknya menjadi pemimpin umat.